Suatu ketika seorang anak kelas 2 sekolah dasar, dengan umur 8-9 tahun, berjalan pulang dari sekolahnya sekitar pkl 12.00 siang. Sesampai dirumah ia buru-buru mengambil gelas hendak minum, mungkin dia merasa haus sejak perjalanan pulang tadi. Ketika hendak mengambil air dari wadah air minum yang ada di meja dapur, mungkin karena dia tidak hati-hati dan terburu-buru, tanpa disengaja dia menyenggol piring kaca yang ada di atas meja tersebut.
Piring tersebut terjatuh dan pecah. Sang anak kaget, pecahannya tersebar disekitar kedua kakinya. Orang tuanya yang sedang berada di ruangan lain datang ke sana dan melihat piring yang sudah pecah tersebut. Kemudian dia melihat anaknya, dan spontan membentaknya, “Dasar kamu ini! Kenapa dipecahin piringnya. Sembrono sih…! Cepat bersihkan!! Sebagai hukumannya, kamu tidak dapat makan siang hari ini.” kemudian dengan muka yang masih kesal dan tetap menggerutu, berlalu meninggalkan anaknya.
Si anak hanya bisa terdiam. Keinginannya untuk minum, untuk menghilangkan rasa haus yang dirasakan sepanjang perjalanan tadi, mungkin sudah tidak ia pikirkan. Tidak hilang memang rasa haus itu. Perasaan sedih yang mungkin dirasakan olehnya, meskipun tanpa tangis dan tanpa air mata, yang dia wujudkan hanya sebuah perasaan yang baru saja tersakiti tanpa tahu bagaimana mengacuhkannya. Sebuah perasaan yang kita bisa mengerti dari seorang anak yang belum genap sepuluh tahun.
Atau mungkin tak terpikirkan kah oleh kita perasaan anak tersebut? Perasaan anak yang mungkin pada siang itu, dia sangat merasa lapar. Perasaannya yang ketika peristiwa itu terjadi, dia merasa kaget atau mungkin saja terluka dan malah ditambah dengan kata-kata yang ber-intonasi tinggi. Terbayangkah apa yang akan dirasakannya?
Tidak mudah mungkin merasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh anak tersebut, bahkan saya juga hanya dapat meraba-raba bagaimana perasaan yang sesungguhnya dia rasakan itu. Dalam Kompas yang klo tidak salah berharikan minggu dengan tanggal yang terlupakan, mungkin sekitar 3-4 minggu yang lalu (di bulan Oktober 2008) memang diceritakan/ditulis oleh seorang kolumnis Kompas yang terlupakan pula siapa namanya, dimana judul utamanya terlupakan juga (aduh maaf2… tapi dengan begini sesuai lah judul artikelnya,, haha..) yang pasti klo tidak salah (aduh jadi pasti atau nggak nih..??) kolom Kompas tersebut menceritakan bahwa disakiti oleh orang yang sudah dekat akan terasa lebih sakit bahkan hingga membekas dan berdampak pada kehidupannya kedepan, dan cerita tersebut menjadi salah satu sampelnya (silahkan dicari saja korannya). Namun, mungkin tidak akan dibahas keseluruhan tulisan Kompas itu disini, karena bagi saya, hanya bagian inilah yang benar-benar terpikirkan oleh saya untuk dijadikan sebuah pembahasan dan sebagai sebuah bahan pembelajaran nantinya.
Lantas jika coba sedikit dibahas hal tersebut, perihal perasaan yang akan dirasakan oleh seorang anak yang mendapat perlakuan seperti tadi, mungkin akan banyak persepsi yang muncul. Secara kejiwaan, mungkin hal ini menjadikan seorang anak merasa sedih bahkan hingga menangis pada akhirnya, jika mengingat usianya yang masih muda. Atau bisa juga menyebabkan anak tersebut memiliki rasa prefentif yang over/lebih dalam perjalanan pendewasaannya, dimana ini bisa menjadikannya sebagai orang yang lebih pendiam. Atau bisa juga menjadikan sebuah sikap ‘anti’ terhadap orang tua, yang menjadikan ia anak yang lebih senang menyendiri meski dirumahnya sendiri.
Kemungkinan-kemungkinan tadi sepatutnya tidak memberikan dampak yang lebih negatif terhadap pendewasaaan dalam pertumbuhan mereka sebagai anak. Bahkan sebaliknya, seandainya peristiwa tersebut disikapi dengan cara yang lebih tepat, yakni dimana ketika anak tersebut berdiri terpaku setelah memecahkan piring tadi, kemudian orang tuanya datang dan melihat kondisi disana. Bukan teriakan lah yang dia butuhkan. Bukan omelan ataupun nasehat yang diucapkan dengan penekanan nada yang tinggi yang pantas diberikan. Melainkan, sebuah tatapan penuh pengertian dan bisikan kata yang menanyakan ‘Kamu nggak apa-apa??’, kemudian membereskan pecahan-pecahan piring tersebut bersama. Maka, bukankah hal tersebut akan mendamaikan hatinya? Yang mungkin sebelumnya berdebar karena kaget dan takut atas peristiwa itu. Bukan mengajarkan anak untuk bersikap ‘lembek’, bukan pula menjadikannya anak yang cengeng dan anak yang akan bersikap dengan hati semata. Tapi, semua itu dilakukan untuk menjadikannya sosok yang pengertian dan sadar akan tanggung jawab.
Semua analisa tersebut, memang tidak mewakili sebagaimana analisis yang diberikan seorang psikiater anak mengenai hal tersebut. Namun, setidaknya hal tersebut bisa memberikan sebuah gambaran mengenai perasaan dan keadaan anak yang mengalami kejadian tersebut ataupun serupa, dan juga memberikan sebuah bantuan dalam memberi pengertian dan pembelajaran atas peristiwa yang terjadi.
Percaya ga percaya..!!!., yang pasti jangan percaya klo ada orang yang bilang klo penulis artikel ini adalah seorang ibu-ibu rumah tangga yang banyak perngalaman akan hal tersebut, karena yang ada…, penulis disini adalah seseorang yang hanya tau bagaimana caranya memberi kesenangan dalam tulisan-tulisannya,
-coz it’s just for fun.-
4 Comments so far
Leave a comment



hiks…hiks….
Comment by ndoey November 18, 2008 @ 7:26 amnulis apa lagi ya…???
wah bagus ini…betul menarik klo membacanya dengan sepenuh jiwa,,(hehe..berlebihan juga ya..)..
Comment by SetiadiPutra December 10, 2008 @ 8:02 amwah pokoknya bagus aj dah tulisannya,, keep writing yo…
(oya salam kenal nama gw Setiadi,, oke ndoey…)
idihhhh… nduy….
Comment by anonim June 15, 2009 @ 9:34 amharusnya jadi psikolog kau…
smoga jadi bapak yang baik yahhh….
smoga… gue bilang..
Comment by anonim June 26, 2009 @ 8:55 am